Pada mulanya hujan itu hanya ada di dalam mimpiku,
di dalam tidurku, disepasang mataku yang terpejam.

Kemudian hujan itu jatuh cinta juga kepada tubuhku.
Hujan senang sekali menyiram-mandikan tubuhku.
Tubuhku tiba-tiba saja memiliki sebuah kamar mandi
dengan sebuah kolam yang selalu penuh dengan hujan.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada tempat tidurku,
kepada kamarku, juga rumahku. Rumahku penuh hujan.
Aku melihat lemari, kursi dan meja, pakaian, buku-buku
dan kenanganku berenang-renang di genangan hujan.

Kemudian hujan jatuh cinta kepada halaman rumahku.
Hujan menenggalamkan pohon-pohon dan bunga yang pernah
ditanam di taman itu. Aku melihat tangkai dan bangkai
bunga mengapung-apung di depan rumahku.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada jalan raya.
Aku menyaksikan hujan itu berjalan seperti kendaraan
diatasnya. Aku tak tahu akan berjalan menuju kemana.

Engkau tahu? Aku selalu membayangkan hujan itu singgah
di halaman rumahmu, mengetuk-ngetuk pintu rumahmu,
mendesak masuk ke kamarmu, naik ke tempat tidurmu,
merasuk ke tubuhmu, dan jatuh cinta kepada matamu.

Aku selalu berdoa, di dalam tidurmu, di dalam mimpimu,
sepasang matamu yang terpejam melihat aku dan hujan,
bermain hujan sendirian.
Dan engkau ingin sekali menemani aku bermain hujan.

(M Aan Mansyur)

Comments No Comments »

Di matamu aku lihat wajahku jadi pohonan tua
dan mataku adalah dua lembar daun yang kisut
pelan-pelan basah oleh rimbun embun terakhir
yang hangat dan sangat mencintai keduanya

Di matamu masih akan terbitkah pagi lagi bagi mataku - atau matiku?
Sebab dua daun jatuh itu sungguh akan selalu
berkeras kembali mencari ranting pohonan
yang pernah memeluk keduanya

Comments 1 Comment »